
Sabtu, 30 Mei 2009
Tipe Kekasih yang Dibenci Wanita

MENJADI lelaki idaman di mata kaum hawa memang bukan hal yang mudah. Karena jika Anda salah langkah, tentu saja hal ini akan membuat penilaiannya berkurang.
Kamis, 28 Mei 2009
Sempurnanya Musim Barcelona
ROMA, KOMPAS.com - Goresan prestasi Barcelona musim ini tidak berhenti saat mereka membekuk Manchester United 2-0 di babak final Liga Champions. Sejumlah rekor pun mengikuti pencapaian ini.
Keberhasilan menekuk MU 2-0 di babak final, melengkapi sukses mereka menjuarai Copa del Rey dan Divisi Primera. Barcelona pun menjadi tim Spanyol pertama yang meraih treble.
Sukses itu juga yang mengantarkan pelatih Pep Guardiola sebagai salah satu pelatih paling sukses di Barcelona, Spanyol, dan dunia. Di musim pertamanya melatih tim senior, Guardiola meraih tiga gelar sekaligus.
Pencapaian itu direngkuhnya dalam usia 38 tahun. Ia pun menjadi pelatih termuda yang berhasil menjuarai ajang ini, semenjak beralih nama dari Piala Champion ke Liga Champions.
Dibandingkan Ferguson, Pep 29 tahun lebih muda. Tentunya, pengetahuan dan pengalaman Pep berada di bawah Ferguson. Artinya, ada sesuatu yang khusus dalam diri Pep sehingga mencapai sukses sebesar ini.
Sebelum gelaran final, pelatih nasional Italia, Marcello Lippi mengatakan bahwa Ferguson kaya taktik yang membuat MU bisa bermain fleksibel dan variatif. Sebaliknya, Barcelona memainkan gaya konservatif yang cuma tahu menyerang dan menyerang.
Ternyata, yang disebut miskin kreasi dan konservatif itulah yang mengantarkan Barcelona menjadi juara. Meski barisan belakang compang-camping, Guardiola mempertahankan skema 4-3-3 seutuh-utuhnya.
Dengan penguasaan bola dan keteguhan pada sepak bola menyerang, Barcelona benar-benar membuat lawan tak sanggup membalas. Inilah satu-satunya strategi pertahanan yang diketahui Pep dan dipertahankan sekuat-kuatnya.
Selain Pep, Lionel Messi berandil besar dalam sukses Barcelona. Sembilan golnya dalam 12 penampilan di Liga Champions musim ini bicara soal tuah "Messiah".
Gol terakhirnya diciptakan ke gawang Manchester United pada babak final. Bagi Messi, ini bukan sekadar gol kemenangan Barcelona, tetapi juga kemenangan dirinya atas tim Inggris.
Sebelum babak final, Messi tidak pernah berhasil menjebol gawang tim Inggris. Dalam dua kali pertemuan dengan Chelsea di babak semifinal, ketajamannya menurun.
Ketika final akhirnya mempertemukan Barcelona dan MU, Messi disebut akan kembali mandul. Tetapi, golnya ke gawang Edwin van der Sar mematahkan ramalan itu.
Gol itu juga tak cuma berarti menghapus tuduhan mandul di depan gawang tim Inggris, tetapi juga membuktikan bahwa postur bukan segalanya.
Messi berhasil menaklukkan gawang Edwin van der Sar dengan sundulan kepala. Mengingat mungilnya tubuh Messi, mencetak gol dengan kepala adalah luar biasa. Apalagi, ia (seharusnya) berada dalam kawalan dua raksasa, Rio Ferdinand dan Nemanja Vidic.
Gol spektakuler Messi itu adalah gol terakhir Liga Champions musim ini. Gol itu juga yang menghapus dominasi Inggris di Eropa, setidaknya untuk tahun ini.
Menjadi satu-satunya tim non-Inggris pada babak semifinal, Barcelona berhasil mendaki puncak dan mengibarkan bendera di Stadion Olimpico Roma.
Terlepas dari kontroversi wasit Tom Henning Ovrebo, Liga Champions telah menjadikan Barcelona yang terbaik musim ini, di Spanyol, Eropa, dan dunia.
Jumat, 22 Mei 2009
Cak Imin: Gak Mungkin Ulama Mengurusi Facebook
JAKARTA - Kabar 700 ulama akan membahas fatwa Facebook memunculkan kesangsian dalam diri Ketua DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar.
Menurut alumnus Pondok Pesantren Mambaul Maarif, Denanyar, Jombang itu fatwa haram Facebook tidak akan mungkin dikeluarkan para ulama. "Gak mungkin ada," ungkapnya.
Lebih lanjut, keponakan Gus Dur tersebut mengaku dirinya gemar membuka situs jejaring sosial Facebook di sela-sela waktu luangnya. "Saya punya tiga facebook," ungkapnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, para ulama Jawa Timur berencana akan membahas hukum Facebook menyusul semakin populernya situs jejaring sosial itu di Indonesia. Apakah hukum Facebook halal, haram, atau mubah semuanya akan ditentukan dalam forum bahtsul masail (musyawarah) yang akan digelar dalam waktu dekat.
Boediono Memang Penganut Neoliberal?
JAKARTA, KOMPAS.com — Meskipun bantahan demi bantahan diluncurkan oleh Boediono maupun pihak SBY sebagai pasangannya yang akan maju dalam pemilu presiden mendatang, sejumlah pengamat ekonomi keukeuh menilai Boediono memang menganut paham ekonomi neoliberalisme. Apa saja argumen yang mendasari klaim tersebut?
Mantan Menneg PPN/ Kepala Bappenas zaman Megawati, Kwik Kian Gie, mengatakan punya banyak catatan dalam rekam jejak Boediono sebagai pejabat publik. Sebagian besar langkahnya adalah 'menjual' sumber daya dan fasilitas publik kepada para investor. "Tanya pada Pak Boediono, dia berpendapat atau tidak ketika jalan raya yang mulus bebas hambatan itu harus dikenakan tarif tol, diserahkan kepada investor swasta, domestik maupun internasional. Oleh karena itu, investornya buat laba dan rakyat yang harus bayar tol!?" seru Kwik seusai diskusi bertajuk "JK-Win untuk Indonesia Adil dan Sejahtera: Ekonomi Kemandirian vs Ekonomi Neoliberal" di Jakarta, Jumat (22/5).
Padahal, menurut Kwik, di negara-negara besar di Amerika dan Eropa, seluruh fasilitas dan sumber daya publik dapat dinikmati rakyat secara gratis. Lalu apa lagi? Kwik kemudian menyebutkan beberapa pertanyaan yang patut dilontarkan kepada Boediono untuk membuktikan pria asal Blitar tersebut memiliki mazhab neoliberal.
"Betul atau tidak bahwa Boediono pro penjualan bahan bakar minyak (BBM) suatu waktu ketika Boediono menjabat sebagai Menteri Keuangan meski harganya tinggi? Betul atau tidak bahwa Boediono pro semua jalan bebas hambatan harus dikenakan biaya? Betul atau tidak bahwa Boediono menganggap barang-barang publik yang penting-penting menjadi ajang cari laba untuk investor asing?" tanya Kwik panjang lebar.
Pengamat ekonomi Hendri Saparini dari ECONIT memiliki pendapat serupa. Tiga pilar neoliberal, yaitu stabilitas makro, agenda liberalisasi, dan agenda privatisasi, yang dicetuskan dalam Washington Consensus menjiwai tindakan-tindakan Boediono.
Menurut Hendri, seorang penganut neoliberal tak akan meninggalkannya sedikit pun. Dalam pilar pertama, seorang neoliberal akan membuat kebijakan hanya demi stabilitas makro. Hendri menilai pernyataan-pernyataan SBY menunjukkan ciri ini. Pilihan kebijakannya pun demikian. Mazhab ini mengharuskan pengambilan kebijakan pengurangan atau pemotongan subsidi.
"Tidak salah jika dalam pidato, SBY mengatakan akan menekan inflasi dan ukuran stabilitas makro. Itu hanya akan menguntungkan kelompok kapital," tutur Hendri.
Belum lagi agenda liberalisasi dan privatisasi yang dilakukan oleh Boediono ketika menjabat sebagai Menkeu dalam masa pemerintahan Megawati dan Menko Ekuin dalam pemerintahan SBY. Misalnya, dalam penyusunan UU Migas. Hendri menilai pemerintahan SBY juga marak melakukan privatisasi. Bahkan, saat ini 40 Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sudah didata untuk diprivatisasi, antara lain PT Krakatau Steel dan PT Kereta Api Indonesia.